IBX5A755AC94D1D5 APAPUN PASTI ADA DISINI: MAKALAH KUDA KUDA KAYU IBX5A755AC94D1D5

Thursday, December 20, 2012

MAKALAH KUDA KUDA KAYU

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
Kayu merupakan bahan produk alam, hutan. Kayu merupakan bahan bangunan yang banyak disukai orang atas pertimbangan tampilan maupun kekuatan. Dari aspek kekuatan, kayu cukup kuat dan kaku walaupun bahan kayu tidak sepadat bahan baja atau beton. Kayu mudah dikerjakan – disambung dengan alat relatif sederhana. Bahan kayu merupakan bahan yang dapat didaur ulang. Karena dari bahan alami, kayu merupakan bahan bangunan ramah lingkungan.
Karena berasal dari alam kita tak dapat mengontrol kualitas bahan kayu. Sering kita jumpai cacat produk kayu gergajian baik yang disebabkan proses tumbuh maupun kesalahan akibat olah dari produk kayu. Dibanding dengan bahan beton dan baja, kayu memiliki kekurangan terkait dengan ketahanan-keawetan. Kayu dapat membusuk karena jamur dan kandungan air yang berlebihan, lapuk karena serangan hama dan kayu lebih mudah terbakar jika tersulut api.
Kayu merupakan bahan yang dapat menyerap air disekitarnya (hygroscopic), dan dapat mengembang dan menyusut sesuai kandungan air tersebut. Karenanya, kadar air kayu merupakan salah satu syarat kualitas produk kayu gergajian. Jika dimaksudkan menerima beban, kayu memiliki karakter kekuatan yang berbeda dari bahan baja maupun beton terkait dengan arah beban dan pengaruh kimiawi. Karena struktur serat kayu memiliki nilai kekuatan yang berbeda saat menerima beban. Kayu memiliki kekuatan lebih besar saat menerima gaya sejajar dengan serat kayu dan lemah saat menerima beban tegak lurus arah serat kayu.

1.2  RUMUSAN MASALAH

è Pengertian kuda-kuda kayu
è Bentuk konstruksi kuda-kuda kayu
è Tipe kuda-kuda kayu
è Bentuk kuda-kuda kayu
è Sambungan kayu
è Konstruksi kuda-kuda kayu tipe howe


1.3  TUJUAN
Setelah mempelajari makalah ini kita diharapkan dapat memahami:
Kemajuan teknologi dan industri dewasa ini, berkembang dengan pesat. Banyak hal-hal baru bermunculan dan telah diterapkan dalam bidang pembangunan. Salah satu bidang pembangunan tersebut adalah pembangunan perumahan. Kebutuhan perumahan di daerah perkotaan, dirasakan semakin meningkat akibat lajunya pertambahan jumlah penduduk.
Sementara itu dengan semakin berkembangnya teknologi penggunaan kayu maka dapat dibuat bentuk-bentuk konstruksi kuda-kuda kayu dengan bentang lebar, kuat, efektif dan efisien. Teknologi penggunaan kayu diantaranya sebagai berikut :
1) Diketahuinya sifat dan jenis kayu serta faktor-faktor yang mempengaruhinya.
2) Teknik penyambungan dan jenis alat sambung.
3) Teknik pengawetan kayu yang semakin baik.
Pemilihan atas suatu bahan bangunan kayu tergantung dari sifat-sifat teknis, ekonomis dan keindahan. Jikalau dipilih kayu sebagai bahan bangunan maka perlulah diketahui sifat-sifat kayu sepenuhnya. Kayu mempunyai sifat-sifat spesifik yang tidak bisa ditiru oleh bahan-bahan lain. Kayu sebagai satu bahan mempunyai beberapa sifat sekaligus yang tidak dapat ditiru oleh bahan-bahan lain yang dibuat manusia. Misalnya kayu mempunyai sifat elastis, ulet, mempunyai ketahanan terhadap pembebanan yang tegak lurus dengan seratnya atau sejajar seratnya dan masih ada sifat-sifat lain lagi. Sifat-sifat seperti ini tidak dipunyai oleh bahan-bahan baja, beton, atau bahan-bahan lain yang bisa dibuat oleh manusia.
Kayu sampai saat ini masih banyak dicari dan dibutuhkan orang. Diperkirakan pada abad-abad yang akan datang kayu akan masih tetap selalu dibutuhkan manusia. Dari segi manfaatnya bagi kehidupan manusia, kayu dinilai mempunyai sifat-sifat utama, yaitu sifat-sifat yang menyebabkan kayu tetap selalu dibutuhkan manusia. Kayu adalah material anisotrop dan mempunyai sifat-sifat mekanik kayu ke berbagai arah tidak sama. Kayu dalam menerima gaya yang ke berbagai arah tidak sama. Kayu dalam menerima gaya yang bekerja padanya tergantung dari arah seratnya. Adapun gaya-gaya yang dapat diterima kayu adalah sebagai berikut :
1) Kayu lebih kuat mendukung gaya tarik sejajar arah serat dari pada menurut gaya tarik tegak lurus arah serat.
2) Kayu lebih kuat mendukung tarikan dari pada desakan, namun kayu juga mempunyai keuntungan dan kerugian, diantaranya :
Kayu mempnyai kemampuan mudah dikerjakan dan relatif murah. Kerugiannya kayu mempunyai sifat yang kurang homogen dengan adanya cacat alam seperti arah serat yang berbentuk spiral dan diagonal serta adanya mata kayu.Dari uraian diatas dengan adanya cacat alam, kayu kurang kuat menerima gaya tarik, untuk itu dapat digunakan kawat baja sebagai pengganti batang tarik untuk menerima gaya tarik.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Kuda-kuda
Adalah suatu susunan rangka batang yangberfungsi untuk mendukung bebanatap termasuk juga beratnya sendiri dan sekaligus dapat memberikan bentuk pada atapnya.Kegunaan :sebagai pendukung atap denganbentang maksimal sekitar 12 m.
Kuda-kuda diperhitungkan mampumendukung :
Beban-beban atap dalam satu luasan atap tertentu. Beban-beban yang dihitung adalah beban mati (yaitu berat penutup atap, reng, usuk,gording, kuda-kuda) dan beban hidup (angin, air hujan, orang pada saat memperbaiki atap).
2.2 Bentuk konstruksi kuda-kuda sepertiurutan gambar dibawah ini :
        a. Akibat adanya beban maka titikpertemuan kedua kaki kuda-kudabagian atas (P) mengalamiperubahan letak yaitu turun ke P’,sehingga kaki kuda-kuda menekan         kedua tembok kearah samping.







b. Untuk mencegah agar kaki kuda-kudatidak bergerak ke samping perludipasang balok horisontal untukmenahan kedua ujung bawahbalok kaki kuda-kuda tersebut.
Batang horisontal tersebut dinamakan :balok tarik (AB).












c. Karena bentangan menahan beban yang bekerja dan beban berat sendiri kuda-kuda,maka batang tarik AB akan melentur. Titik P bergerak turun ke titik P’, dengan adanya pelenturan, tembok seolah-olahke dalam.




 







d. Untuk mengatasi adanya penurunan pada batang tarik diujung atas kaki kuda-kuda dipasangi tiang dan ujung bawah tiang menggantung tengah-tengah batang tarik AB yang  disebut tiang gantung.









e. Semakin besar beban yang bekerja dan bentangan yang panjang,sehinggakaki kuda-kuda yang miring mengalami pelenturan.







f. Untuk mencegah pelenturan pada kaki kuda-kuda perlu dipasangi batang sokong/skoor.
GAMBAR :







g. Pada bangunan-bangunan yang berukuran besar, kemungkinankonstruksi kuda-kuda melentur pada bidangnya karena kurang begitukaku. Untuk itu perlu diperkuat dengan dua batang kayu horisontal yang diletakkan kira-kira ditengah-tengah tinggi tiang gantung.



















a. Balok tarik, b. Balok kunci, c. Kaki kuda-kuda, d. Tiang gantung, e. Batang Sokong, f. Balok Gapit, g. Balok Bubungan, h. Balok Gording, i. Balok Tembok, j. Balok bubungan miring, k. Balok tunjang, l. Tiang Pincang, m. Balok Pincang,



2.3 Tipe kuda-kuda
a. Tipe Pratt
b.Tipe Howe
c. Tipe Fink


d. Tipe Bowstring

e. Tipe Sawtooth
f. Tipe Waren


2.4 BENTUK KUDA-KUDA
a. Bentang 3-4 Meter
Digunakan pada bangunan rumah bentang sekitar 3 s.d. 4 meter, bahannya dari kayu, atau beton bertulang.

b. Bentang 4-8 Meter
Untuk bentang sekitar 4 s.d. 8 meter,bahan dari kayu atau beton bertulang.
c. Bentang 9-16 Meter
Untuk bentang 9 s.d. 16 meter,bahan dari baja (double angle).

2.4.1 GAMBAR KUDA-KUDA KAYU TEMPAT PARKIR KANTOR POS UNIVERSITAS NEGERI MALANG






Kantor pos universitas negeri Malang memiliki kuda-kuda kayu dengan menggunakan sambungan bibir miring berkait, semua sambungan menggunakan baut. Semua rangka kuda-kuda terbuat dari kayu yang ditahan beton bertulang, tinggi kolom sekitar 3 - 4,5 M, serta memiliki 3 kuda-kuda pada bentang memanjangnya.

2.5 Sambungan Kayu
Adalah sebuah konstruksi untuk menyatukan dua atau lebih batang kayu untuk memenuhi kebutuhan panjang, lebar atau tinggi tertentu dengan bentuk konstruksi yang sesuai dengan gaya-gaya yang akan bekerja pada batang kayu tersebut sesuai penggunaan konstruksi kayu tersebut.
Hubungan Kayu:
Adalah dua batang kayu atau lebih yang dihubung-hubungkan menjadi satu benda atau satu bagian konstruksi dalam satu bidang berdemensi dua maupun dalam satu ruang berdemensi tiga
Pada prinsipnya sambungan kayu dapat dibagi menjadi tiga macam yaitu :
1. Sambungan kayu ke arah memanjang.
2. Sambungan kayu ke arah melebar.
3. Sambungan kayu ke arah menyudut
Selain tiga macam sambungan kayu tersebut di atas, masih ada dua sambungan lain yaitu sambungan bersusun dan sambungan dengan pengunci.Sambungan Kayu Memanjang : Adalah sebuah konstruksi untuk menyatukan dua batang atau lebih balok kayu atau papan kayu untuk memenuhi panjang tertentu yang dibutuhkan Sambungan kayu ke arah memanjang ada dua macam yaitu memanjang ke arah mendatar, dan ke arah tegak Sambungan melebar adalah sambungan papan untuk dinding,lantai maupun untuk keperluan yang lain.
Sebuah sambungan pada suatu konstruksi bangunan baik itu dari beton, baja maupun dari kayu merupakan suatu titik terlemah pada konstruksi tersebut. Oleh sebab itu dalam melaksanakan penyambungan harus memperhatikan syarat-syarat ukuran sambungan dan gaya-gaya yang akan bekerja pada sambungan tersebut. Untuk memenuhi syarat kekokohan sambungan dan hubungan kayu maka sambungan dan hubungan kayu harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Sambungan harus sederhana dan kuat. Harus dihindari takikan besar dan dalam.
b. Harus memperhatikan sifat-sifat kayu terutama sifat menyusut, mengembang dan menarik.
c. Bentuk sambungan dari hubungan harus tahan terhadap gaya-gaya yang bekerja.
è Syarat-syarat ukuran sambungan dapat dilihat pada contoh gambar sambungan
è Sedangkan gaya-gaya yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:

1. Gaya Tarik
Bila yang bekerja gaya tarik, maka sambungan kedua batang kayu tersebut harus saling mengait agar tidak mudah lepas, misalnya memakai sambungan bibir miring berkait.
2. Gaya Desak (Tekan)
Bila yang bekerja gaya desak, maka sambungan kedua batang kayu diusahakan agar permukaan batang yang akan disambung saling menempel rapat. Misalnya memakai sambungan lurus tekan.
3. Gaya Lintang dan Momen
Bila yang bekerja gaya lintang dan momen, maka gaya lintang akan menyebabkan sambungan akan saling bergeser sedang momen akan menyebabkan suatu lenturan. Maka dalam hal ni sambungan harus kuat dan kaku misalnya memakai sambungan pengunci.
4. Gaya Puntir
Bila sambungan atau hubungan ada gaya puntir, maka sambungan kedua batang kayu harus saling mencengkeram agar tidak mudah terjungkit lepas misalnya memakai sambungan tarikan lurus rangkap untuk sambungan tiang dan hubungan pen dan lubang untuk hubungan sudut.
Untuk mendapatkan sambungan yang awet dan kuat, maka cara mengerjakan sambungan harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1.Cara mengerjakan sambungan kayu tidak boleh sampai merusak kayunya, misalnya: kayu tidak boleh dipukul langsung tetapi harus diberi bantalan pelindung, salah bor akan mterjadi lubang yang sia-sia dan lubang ini merupakan awal pelapukan, salah gergaji akan mengurangi luas penampang kayu.
2. Kayu yang akan disambung harus merupakan pasangan yang pas, maksudnya tidak boleh terlalu longgar karena akan mudah lepas atau bergeser, dan juga tidak boleh terlalu k encang (Jw. sesak) karen akalau dipaksakan akan ada bagian yang rusak atau pecah.
3. Sebelum kedua kayu yang akan disambung disatukan, lebih dahulu bidang bidang sambungannya diberi cairan pengawet agar tidak mudah lapuk, sebab biasanya daerah sambungan mudah dimasuki air dan air yang tertinggal ini menyebabkan pelapukan.
4. Sambungan kayu diusahakan agar terlihat dari luar, karena untuk memudahkan kontrol dan perbaikan.

2.5.1 Macam-macamsambungan kayu memanjang

Dibandingkan dengan bahanbangunan yang lain, kayu mempunyai sifat yang khas yaitu kekuatannyabesar, kenyal, ulet, keras, dan mudah dikerjakan. Selain itu kayu mudahterbakar, tidak tahan lembab, mudah lapuk, dan dapat berubahbentuknya. Pemakaian kayu sebagai bahan bangunan didasarkan padatingkat keawetan dan kekuatannya. Karena kayu merupakan bahanbangunan alam, maka dari pohonnya kayu dapat dibentuk berbagaimacam ukuran yang berupa balok, dan papan. Di perdagangan ukurankayu umumnya sudah tertentu antara lain : (ukuran dalam satuan cm)

è 6/12 ; 6/10 ; 8/12 ; 10/10 ; 15/15 == disebut balok
è 2/15 ; 2/20 ; 3/25 ; 3/30 ; 4/40 == disebut papan
è 4/6 ; 5/7 ======= disebut usuk atau kaso
è 2/3 ; 3/4 ======= disebut reng
è 1/3 ; 1/4 ; 1/6 ======= disebut plepet

Karena keterbatasan panjang kayu yang ada diperdagangan, makauntuk suatu konstruksi kayu yang panjang diperlukan adanya sambungankayu. Pengertian sambungan kayu adalah dua batang kayu atau lebihyang saling disambungkan satu sama lain sehingga menjadi satu batangkayu yang panjang. Pengertian hubungan kayu adalah dua batang kayuatau lebih yang saling dihubungkan satu sama lain pada satu titik tertentusehingga menjadi satu bagian konstruksi.
Perlu diperhatikan syarat-syarathubungan kayu, antara lain :
1 dibuat sesederhana mungkin tapi kokoh,2hindari menakik kayu yang dalam, perhatikan penempatan sambungan,harus tahan terhadap gaya yang bekerja padanya, konstruksi sambungandibuat yang pas, jangan menggunakan kayu yang cacat.


2.5.2MENGGAMBAR SAMBUNGAN KAYU MENYUDUT
Sambungan takikan lurus, sambungan purus dan lubang terbuka,sambungan purus dan lubang dengan spatpen purus alur, sambungan takikan lurus ekor burung, sambungan purus dan lubang terbuka, sambungan purus dan lubang tertutup,sambungan purus dan lubang dengan gigi tegak, sambunganpurus dan lubang dengan gigi garis bagi, sambungan takikan lurusekor burung, sambungan Raveling ekor burung.Sambungan voor loef.
2.5.3 SAMBUNGAN KAYU BERSUSUN DANSAMBUNGAN DENGAN PENGUNCI

Sambungan denganpengunci dimaksudkan untuk memperoleh kekuatan dan kekakuan kayuyang besar. Alat sambung utama yang diperlukan adalah mur dan baut. Materi ini meliputi : menggambar beberapa macamsambungan kayu bersusun dan beberapa sambungan kayu dengan pengunci, yang terdiri dari :
-Sambungan bersusun dengan schei,Sambungan bersusun dengan gigi.Sambungan dengan pengunci di bawah,Sambungan dengan pengunci di atas dan di bawah,Sambungan dengan pengunci di samping.



2.6 konstruksi kuda-kuda kayu tipe howe

Perencanaan kuda-kuda (1)
Sebuah kuda-kuda seperti tergambar:



i = jarak kuda-kuda dalam m
j = jarak gording dalam m

A. PEMBEBANAN PADA KUDA-KUDA
            Pembebanan pada kuda-kuda terdiri dari:
1.    Beban Mati, yang terdri dari:
   Beban atap
   Berat Gording
   Berat sendiri kuda-kuda
2.    Beban Hidup
3.    Beban Angin



1 dan 2 Beban Mati dan Beban Hidup
            Mula-mula tentukan besarnya dimensi kuda-kuda, misalnya dimensi kuda-kuda a/b cm, hitung panjang keseluruhan elemen-elemen kuda-kuda, hitung berat atap beserta asesorisnya seperti pada perhitungan gording(PMI’70), misalnya berat atap c kg/m2.
Rubah berat atap dalam satuan kg/m2, menjadi kg/m. Jumlahkan dengan berat balok gording. Dan tambahkan dengan beban hidup P kg

Beban Atap = c kg/m2 x i m                             = d kg/m
Berat sendiri kuda-kuda = a m x b m x BJ       = e kg/m
Berat sendiri gording = a m x b m x BJ x i m  = f kg
Beban-beban terbagi rata tersebut diubah menjadi beban-beban terpusat

Dari pembebanan tersebut diatas dengan analisa struktur didapat gaya-gaya batang

3. Beban Angin

Beban angin (w kg/m2) dikali luas atap yang dipikul oleh satu titik buhul sama dengan(z kg)Beban Angin Kanan


Dari pembebanan tersebut diatas dengan analisa struktur didapat gaya-gaya batang
Contoh pembebanan pada kuda-kuda
PEMBEBANAN PADA KUDA-KUDA

Beban tetap =
1      Beban atap
2      Beban gording
3      Berat sendiri kuda-kuda

Beban hidup =
1      Berat orang atau beban hujan

Berat atap =
2      q atap   = Beban atap x j
 = 60 kg/m2  x  3,5 m
 = 210 kg/m’

Berat gording
3      G gording    = 810 kg/m3 x 0,2 m x 0,12 m x 3,5 m
=  68,04 kg

Asumsi ukuran profil kuda-kuda : 12/20



Berat sendiri kuda-kuda (Dwg No 6)

Panjang profil kuda-kuda
Batang tepi luar profil ganda =
4     Batang 1 dan 4       = (2 x 1,72 m) x 2          =  6,88 m
5     Batang 2 dan 3       = (2 x 2,332 m) x 2        =  9,328 m
6     Batang 5 dan 8       = (2 x 1 m) x 2               =  4 m
7     Batang 6 dan 7       = (2 x 2 m) x 2               =  8 m
8     Batang 9 dan 13     = 2 x 1,4 m                    =  2,8 m
9     Batang 10 dan 12    = 2 x 2,441 m                =  4,882 m
10  Batang 11               = 1 x 2,6 m                   =  2,6 m        +
11  Panjang Total                                              =  38,49 m

Volume batang total   = Panjang total x 0,12 m x 0,2 m
                                 = 38,49 m x 0,12 m x 0,2 m
                                 = 0,924 m3

Berat kuda-kuda = Volume total x berat jenis
                                 = 0,924 m3 x 810 kg/m3
                                 = 748,44 kg

Berat aksesoris = 25% x berat kuda-kuda
                       = 25% x 748,44 kg
                       = 187,11 kg

Berat total kuda-kuda = Berat kuda-kuda + Berat aksesoris
                                 = 748,44 kg + 187,11 kg
                                 = 935,55 kg

q berat sendiri = q bs =  = 155,93 kg/m’


Beban Hidup  = 
1     P h = 100 kg

Berat sendiri kuda-kuda =
2     P bs1 =   q bs x 1 m  =  x 155,93 kg/m’ x 1 m  = 77,96 kg
3     P bs2 =   q bs x 1,5 m  =   155,93 kg/m’ x 1,5 m     =  233,89 kg
4     P bs3 =   q bs x 2 m     =   155,93 kg/m’ x 2 m        =  311,86 kg
5     P bs4 =   q bs x 1,5 m  =   155,93 kg/m’ x 1,5 m      =  233,89 kg
6     P bs5 =   q bs x 1 m  =   x 155,93 kg/m’ x 1 m   =  77,96 kg

Berat gording =
1     P g1 = G gording                                    = 68,04 kg
2     P g2 = 2,5 x G gording = 2,5 x 68,04  kg = 170,1 kg
3     P g3 = 3 x G gording = 3 x 68,04 kg        = 204,12 kg
4     P g4 = 2,5 x G gording = 2,5 x 68,04       = 170,1 kg
5     P g5 = G gording                                    = 68,04 kg

Berat Atap =
1     P at1 = q atap x 1 m x ½ = 210 kg/m’ x 1 m x ½  =  105 kg
2     P at2  = q atap x 1,5 m    = 210 kg/m’ x 1,5 m     = 315 kg
3     P at3  = q atap x 2 m       = 210 kg/m’ x 2 m        = 620 kg
4     P at4 = q atap x 1,5 m     = 210 kg/m’ x 1,5 m     = 315 kg
5     P at5 = q atap x 1 m x ½ = 210 kg/m’ x 1 m x ½  = 105 kg
Beban terpusat pada titik buhul =
1     P1 = Ph + P g1 + P at1 = 100 kg + 68,04 kg   + 105 kg =  273,04 kg
2     P2 = Ph + P g2 + P at2 = 100 kg + 170,1 kg + 315 kg   =  585,1 kg
3     P3 = Ph + P g3 + P at3 = 100 kg + 204,12 kg + 620 kg  = 924,12 kg
4     P4 = Ph + P g4 + P at4 = 100 kg + 170,1 kg + 315 kg   =  585,1 kg
5     P5 = Ph + P g5 + P at5 = 100 kg + 68,04 kg + 105 kg   =  273,04kg
6     P6 = P bs5                                                                   =  77,96 kg
7     P7 = P bs4                                                                   = 233,89 kg
8     P8 = P bs3                                                                   =  311,86 kg
9     P9 = P bs2                                                                   =  233,89 kg
10  P10 = P bs1                                                                 =  77,96 kg

Reaksi Perletakan =
VA =
      =
      =  1787,98 kg (    )

VB =
      =
      =  1787,98 kg (    )

GAYA BATANG
TITIK BUHUL A
S Fy = 0
1      VA + S1 sin a1 – P10 – P1 = 0
1787,98  + S1 sin 54,4623o – 77,96 - 273,04 = 0
0,81373 S1 = - 1436,98 kg
S1 = - 1765,92 kg (tekan)

S Fx = 0
2      S8 + S1 cos a1 = 0
S8 + S1 cos 54,4623o = 0
S8 + (-1765,92) (0,58124) = 0
S8 = 1026,42 (tarik)




TITIK BUHUL H

S Fy = 0
3      S9 – P9 = 0
S9 – 233,89 = 0
S9 = 233,89 kg (tarik)
S Fx = 0
4      S7 – S8 = 0
S7 – 1026,42 = 0
S7 = 1026,42 kg (tarik)

TITIK BUHUL C
S Fy = 0
5     S2 sin a2 – S10 sin a3 – S1 sin a1 – S9 – P2 = 0
6     S2 sin 30,9637o – S10 sin 34,99o – (-1765,92) sin 54,4623o – 233,89 – 585,1= 0
7     0,51449 S2 – 0,5734 S10 – (-1765,92) (0,81373) – 818,99 = 0
8     0,51449 S2 – 0,5734 S10 + 617,99 = 0      
9     S2 = 1,1145 S10 – 1201,17 ........................................................... (i)
S Fx = 0
1     S2 cos a2 + S10 cos a3 – S1 cos a1 = 0
2     S2 cos 30,9637o + S10 cos 34,99o - (-1765,92) cos 54,4623o = 0
3     0,85749 S2 + 0,8193 S10 – (-1765,92) (0,58124) = 0
4     0,85749 S2 + 0,8193 S10 + 1026,42 = 0
5     S10 = - 1,0466 S2 – 1252,8 ………………………….…….……… (ii)

Persamaan (i) dan (ii) :
1     S2 = 1,1145 (-1,0466 S2 – 1252,8) -1201,17
2     S2 = -1,1665 S2 – 2597,42
3     1,1665 S2 = - 2597,42
4     S2 = - 2226,67 kg (tekan)

Persamaan (ii) :
1     S10 = - 1,0466 (-2226,67) – 1252,8
2     S10 = 2330,43 – 1252,8
3     S10 = 1077,63 kg (tarik)







TITIK BUHUL D

S Fx = 0
1      S3 cos a2 - S2 cos a2 = 0
2      S3 = S2
3      S3 = -2226,67 kg (tekan)

S Fy = 0
1      - S11 – P3 – S3 sin a2 - S2 sin a2 = 0
2      - S11 – 924,12 – S3 sin 30,9637o – S2 sin 30,9637o = 0
3      - S11 – 924,12 – (-2226,67) (0,51449) – (-2226,67) (0,51449) = 0
4      - S11 + 1367,08 = 0
5      S11 = 1367,08 kg (tarik)

Karena simetris, maka :
1      S4 = S1 = -1765,92 kg (tekan)
2      S5 = S8 = 1026,42 kg (tarik)
3      S6 = S7 = 1026,42 kg (tarik)
4      S12 = S10 = 1077,63 kg (tarik)
5      S13 = S9 = 233,89 kg (tarik)



TABEL GAYA BATANG AKIBAT BEBAN TETAP

NO BATANG
BATANG TARIK ( + )
BATANG TEKAN ( - )
1
----
- 1765,92 kg
2
----
-2226,67 kg
3
----
-2226,67 kg
4
----
- 1765,92 kg
5
1026,42 kg
----
6
1026,42 kg
----
7
1026,42 kg
----
8
1026,42 kg
----
9
233,89 kg
----
10
1077,63 kg
----
11
1367,08 kg
----
12
1077,63 kg
----
13
233,89 kg
----
















BAB IV
PENUTUP


Dalam penutup dari makalah yang ringkas ini, selaku penulis hanya dapat melampirkan kesimpulan dan saran-saran sebagai pelengkap dari isi makalah kami ini.

A. Kesimpulan.
Kuda-kuda adalah suatu susunan rangka batang yangberfungsi untuk mendukung bebanatap termasuk juga beratnya sendiri dan sekaligus dapat memberikan bentuk pada atapnya.Kegunaan :sebagai pendukung atap denganbentang maksimal sekitar 12 m.
B. Saran-saran
Adapun saran-saran yang akan kami sampaikan selaku penulis antara lain :
a.Dalam pembuatan sebuah makalah, sebaiknya dipersentasekan agar kami selaku mahasiswa sekaligus penulis makalah mampu memahami lebih dalam tentang isi dari makalah tersebut dan dibimbing langsung oleh dosen yang bersangkutan.
b.Dalam membuat makalah, dosen yang bersangkutan juga harus meneliti lebih lanjut apakah isi makalah yang dibuat oleh mahasiswa itu benar mengambil referensi dari buku yang sesuai dengan isi makalah tersebut atau tidak, hal ini juga dilampirkan oleh penulis dalam sebuah saran.



DAFTAR PUSTAKA


architectaria.com
Departemen Pekerjaan Umum. (1961), Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia NI-5 PKKI, Bandung : Yayasan Dana Normalisasi Indonesia.
Frick. Heinz. (1978), Mekanika Teknik I, Statika dan Kegunaannya, Yayasan Kanisius, Yogyakarta.
Frick. Heinz. (1982), Ilmu Konstruksi Bangunan Kayu, Semarang : Yayasan Kanisius, Yogyakarta.
Wiryomartono, Suwarno. (1976), Konstruksi Kayu Jilid I, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Yap, Felix KH. (1964), Konstruksi Kayu, Bina Cipta, Bandung..
kk.mercubuana.ac.id/.../11013-5-560662027793
kuda-kuda smk n 1 singosari.ppt

Translate